Read Garden Magic by Mita Miranti Online

garden-magic

"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."Menjadi yatim piatu sungguh tak pernah terbayangkan oleh Iris. Dia juga tak mengira akan bertemu dengan pria menyebalkan, yang membuat hidupnya semakin sulit. Siapa sebenarnya pria itu? Oh, dan berapa banyak sketsa taman yang harus dia buat untuk melupakan masa lalunya? Seandainya cinta dapat menemukan jalannya sendi"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."Menjadi yatim piatu sungguh tak pernah terbayangkan oleh Iris. Dia juga tak mengira akan bertemu dengan pria menyebalkan, yang membuat hidupnya semakin sulit. Siapa sebenarnya pria itu? Oh, dan berapa banyak sketsa taman yang harus dia buat untuk melupakan masa lalunya? Seandainya cinta dapat menemukan jalannya sendiri, dia ingin meloloskan diri dari pedihnya rasa dikhianati. Dia ingin merasakan kembali indahnya bahagia, seindah bunga kana yang begitu dicintai ibunya....

Title : Garden Magic
Author :
Rating :
ISBN : 9786023752829
Format Type : Paperback
Number of Pages : 202 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Garden Magic Reviews

  • Rizky
    2018-09-21 08:25

    Ada 1 eks Garden Magic gratis disini DL 31 Januari 2016 http://rizkymirgawati.blogspot.co.id/..."Dunia itu sebenarnya luas, Nak. Tetapi terkadang manusia yang membuatnya sempit." "Karena mungkin banyak orang ingin kembali ke masa lalu dan membuat segalanya bisa terhubung lagi."Sejak membaca Bitter Winner, aku sudah menyukai gaya menulis Kak Mita, sehingga saat novel ini akan terbit aku antusias sekali. Kali ini Kak Mita mencoba mengangkat kisah kehidupan Iris, seorang ahli taman. Iris yang seorang yatim piatu, sepeninggal orang tuanya tidak berpangku tangan bahkan bermuram durja. Iris tetap optimis dengan hidupnya, berbekal warisan rumah kaca warisan ayahnya yang seorang peneliti, Iris pun pengusaha pembuatan taman yang dinamakannya "Arum Dalu".Iris hidup bersama asisten rumah tangganya yang sudah mengabdi sekian lama dan Morries, seekor anjing Siberian Husky. Suatu hari Iris mendapatkan orderan pembuatan taman di rumah Bu Astari. Bu Astari ingin membuat taman yang tidak hanya menarik tetapi juga bisa membuat kenyamanan bagi pemilik rumah, dan ternyata Bu Astari sangat puas dengan hasil pekerjaan Iris dan Arum Dalu.Bu Astari pun akhirnya membuat orderan pembuatan taman di rumah anaknya, Wira. Bu Astari hanya memiliki 2 orang anak, Wira dan Anggi. Namun, Anggi telah meninggal akibat kecelakaan yang menewaskannya. Kematian Anggi, membuat Bu Astari ingin lebih dekat dengan Wira. Dengan sedikit paksaan Bu Astari, Wira pun akhirnya pulang ke Indonesia setelah sekian lama tinggal di luar negeri. Sayangnya Wira lebih memilih tinggal dirumah barunya daripada dirumah Bu Astari.Ide pembuatan taman rumah Wira, ternyata tidak bersambut terlalu baik bagi Wira. Sejak awal Wira sama sekali tidak antusias, Wira menyerahkan semuanya kepada Bu Astari. Anehnya Wira bersikap dingin bahkan ketus terhadap Iris, membuat Iris sungguh tidak nyaman. Ternyata ada alasan tersendiri mengenai sikap Wira tersebut, alasan yang melibatkan Iris didalamnya. Apa yang sesungguhnya terjadi?Membaca novel ini sungguh menarik sekali, aku suka sekali bagaimana Kak Mita mengenalkanku kepada Iris dan kehidupannya. Aku suka dengan ide tentang pecinta tanaman dan binatang yang coba digali oleh Kak Mita, membuatku penasaran sekali. Namun, porsi tentang tanaman memang tidak sebanyak binatang, tetapi tetap saja menjadi warna tersendiri dalam novel ini.Aku jatuh cinta dengan Iris. Kehidupannya yang tentunya tidak mudah, menjadi yatim piatu tidak membuatnya terpuruk. Iris mampu bangkit dan malah membesarkan rumah kaca warisan orangtuanya dengan sangat baik, bahkan membangun bisnis tamannya sendiri yang sudah mulai berkembang. Iris digambarkan sebagai wanita mandiri dan tangguh, dipertemukan dengan sosok Wira yang dingin dan cenderung misterius. Aku suka interaksi Wira dan Iris, perlahan-lahan chemistrynya terbangun, apalagi saat Wira sakit berasa sekali kepedulian Iris. Selain Iris dan Wira, aku juga jatuh cinta dengan sosok Bram, seorang dokter hewan yang jatuh hati terhadap Iris. Bram yang sangat mencintai binatang, dan ikut dalam usaha penyelamatan binatang, khususnya anjing yang membuat dirinya menjadi dekat dengan Iris.Sejak awal, aku jujur tak menyangka kisah ini akan dibawa kesana. Ternyata puzzle-puzzle yang bertebaran yang sempat membuatku bingung itu ada kaitannya dan menjalin kisah ini menjadi twist-twist yang cukup menarik. Aku awalnya berpikir ini hanya menjadi kisah cinta biasa, ternyata ada unsur masa lalu yang membuat konflik dalam novel ini, dipadukan dengan kisah tanaman dan bintang, wah seru sekali.Andai Kak Mita lebih mengeksplor kisah mengenai tanaman dan seluk beluk dunia Iris yang seorang ahli taman ini pasti menjadikan novel ini lebih menarik lagi. Overall, novel yang sungguh menghangatkan hati sekali."Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."

  • Dini Afiandri
    2018-10-06 11:28

    Saya memutuskan membeli novel ini karena ada ulasan yang mengatakan novel direkomendasikan untuk pecinta hewan. Ternyata saya terlalu cepat membeli, karena sehari sesudah itu langsung ada giveaway-nya. Namun, saya tidak menyesal membeli buku ini.Secara garis besar, saya menikmati cerita yang disajikan. Twistnya juga oke, karena di sepertiga akhir buku, adegan aksinya mendadak meningkat tajam. Cukup mantap sebagai klimaks cerita.Saya suka interaksi Iris dengan anjingnya, Morries, yang sejak awal sudah digambarkan sangat manis. Gerakan pecinta hewan dan dog rescue yang dibahas di sini cukup menunjukkan riset yang dalam, dan meski saya berharap dunia arsitektur tamannya juga dibahas serta dieksplorasi sama besarnya dengan dunia hewan, saya menikmati plot yang disuguhkan.Kekurangan yang saya rasakan ketika membacanya, adalah kebingungan saya dengan lini waktu ceritanya. Misalnya, di satu adegan digambarkan hari sudah malam dan Iris pulang dan mandi, tapi lalu tanpa alur waktu yang jelas, tiba-tiba hari berganti dan adegannya Wira mandi agak siang ketika dia baru sembuh dari sakit. Setiap peralihan adegan itu, saya merasa bingung, sebetulnya kapan adegan itu terjadi. Bagian tengah novel ini terasa tumpang tindih jadinya.Kemudian, chemistry Iris Dengan Wira saya rasakan kurang. Secepat kilat berubah dari benci jadi cinta, dan di bagian penyelesaiannya, kenapa mereka berdua tiba-tiba harus bicara dalam bahasa Inggris? Percakapan mereka sebelumnya biasa saja, dan lebih alami. Saya merasa dialog Inggrisnya jatuhnya jadi agak dipaksakan. Tapi mungkin ini selera pribadi saya.Dan karena interaksi serta chemistry Bram ke Iris lebih kuat, rasanya saya lebih mendukung Iris dengan Bram dibanding dengan Wira. Apalagi Morries juga setuju. (Lho? Abaikan.)3 bintang untuk novel ini. Saya menikmatinya, namun ada banyak bagian yang masih bisa lebih baik lagi. Kudos untuk mbak Mita Miranti.

  • Sulis Peri Hutan
    2018-10-01 05:11

    Review lengkap + giveaway http://www.kubikelromance.com/2016/01...

  • Intan Novriza Kamala Sari
    2018-10-15 05:04

    Garden Magic. Yay! Ini adalah kali kedua aku membaca karya manis kak Mita Miranti. Setelah sebelumnya aku diajak mencuri ilmu mengenai scrapbook di Bitter Winner, kali ini kak Mita mengajakku melihat indahnya dunia tumbuhan, cantiknya taman, juga lucu dan menggemaskannya seekor anjing.Ya, jadi selain bermellow dengan kehidupan Iris, berkelindan dengan masa lalunya, garden Magic ini menawarkan tema yang unik, yaitu tumbuhan dan hewan. Ayah Iris, seorang pensiunan peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, yang gemar berkebun, ibu Iris yang menyukai bunga Kana, juga profesi Iris yang bertugas menciptakan taman-taman indah, akan membuat kita karib dengan tumbuhan. Review lengkap : http://www.ketimpukbuku.com/2016/02/r...

  • Nana
    2018-10-07 06:03

    Twist-nya oke. Cocok dibaca pencinta binatang nih.Tunggu blog tour-nya di http://glasses-and-tea.blogspot.co.id tanggal 11 Januari 2016!

  • Ifa Inziati
    2018-10-03 07:02

    WARNING: MILD SPOILER2.5 bintang dibulatkan ke atas.Buku ini cocok sebagai bacaan di kala menunggu atau selingan dari bacaan lain yang barangkali sedang menjemukan. Jika tidak mengantuk dan ingat harus bangun pagi, mungkin saya akan begadang demi menghabiskannya karena ceritanya mudah diikuti dan tergolong pendek.Kelebihan tulisan novel ini (dan juga penulisnya) adalah adanya unsur keahlian menarik yang bisa jadi ilmu baru bagi pembacanya, dalam buku ini yaitu pertamanan dan komunitas pecinta hewan peliharaan. Saya rasa ini juga dapat menjadi ciri khas dari penulis. Selain itu, hubungan antartokoh yang tak biasa, bahkan mengagetkan, menambah bumbu misteri terutama di sepertiga akhir. Apa yang kita lihat di awal akan terjawab pada akhirnya dengan rentetan kejutan.Alurnya sendiri berlama-lama di awal, mengulur dengan berbagai detail yang buat saya bisa saja dipangkas karena kaitannya dengan kejadian selanjutnya sangat tipis. Detail itu seringkali saya lompati dan saya tetap bisa menikmati ceritanya. Justru, ketika saya mengetahuinya (seperti dinding warna ungu pastel di rumah Bu Astari), bayangan saya akan rumah itu jadi buyar, yang tadinya klasik a la Eropa dengan dominan warna putih dan netral menjadi sedikit minimalis. Jadi, saya putuskan untuk melewati detailnya saja.Mulai ke tengah, masalah mulai terlihat dan bergulir. Kata 'Garden Magic' di sini tidak jadi dominan, malah cenderung seimbang dengan unsur pecinta binatangnya. Namun, yang agak 'gimana' bagi saya adalah penokohannya yang mengambang. Sikap Iris kadang berbeda dari yang saya perkirakan, membuat saya berpikir seperti apa kepribadian dia sebetulnya. Kemarahan Wira juga kurang didukung kemistrinya dengan adiknya, Anggi, yang hanya diperlihatkan lewat narasi. Karena tanggung, hubungannya pun jadi tak begitu terasa. Mengapa Iris bisa akhirnya menyukai Wira yang kasar padanya dan mengapa Wira jadi memaafkan Iris bahkan berani menciumnya. Malah, yang lebih masuk akal justru jika Iris menyukai Bram, karena Bram sudah bersikap sangat baik pada Iris (dan Morries). Alurnya seperti dibuat untuk menggiring pembaca pada Iris-Wira, padahal Iris-Bram lebih alami.Yang saya ingin lihat lebih sebetulnya Morries. Saya membayangkan interaksi majikan dan anjingnya (apalagi di sini Siberian Husky yang tampaknya garang tapi sebetulnya menggemaskan) akan sangat menyenangkan, seperti mengajak obrol, membelai di saat sedang galau, atau sekadar main frisbee. Saya ingin juga mengikuti keseharian Iris dan anjingnya. Namun, mungkin karena pribadi Iris yang lebih suka curhat di diari dan kesibukannya di luar rumah menyita waktu, penggambaran Iris dan Morries jadi sedikit.Saran saya, nikmatilah buku ini seperti sedang menikmati pemandangan tetumbuhan di taman. Tanpa prasangka, tanpa beban, dan layangkanlah seluas-luasnya pandangan untuk mendapatkan keindahannya. Tanpa disadari, lambat laun kita akan merasa relaks, lega, dan puas.

  • Puji P. Rahayu
    2018-09-19 05:05

    Garden Magic3 dari 5 bintangoleh Mita Miranti"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."Sepertinya, sudah agak lama dari terakhir kali saya membuat satu ulasan mengenai novel yang saya baca. Selain karena saya memang diserang reading slump, saya memang merasa tidak bersemangat untuk menuliskan satu resensi tertentu. Seperti bukan saya, ya? Yaa, mau bagaimana lagi. Saya sekarang lebih fokus untuk bermain game. Iya, tolong salahkan Kampung Maifam yang menyita banyak waktu saya.Baiklah, kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai Garden Magic. Saya mendapatkan novel ini ketika mengikuti acara Grasindo Blogtionship 2017 yang diadakan di.. hmmm, kenapa saya lupa namanya, ya? Pokoknya di salah satu kafe yang terletak tak jauh dari Stasiun Sudirman--well, agak memalukan karena saya naik ojek online padahal seharusnya bisa jalan. Dalam perjalan pulang ke Malang, saya memilih untuk membaca novel ini sebagai bacaan ringan. Tentunya, saya tidak ingin berekspektasi apa-apa. Toh, saya hanya ingin sekadar mengembalikan mood saya saja untuk membaca.Resensi lengkap dapat dibaca di http://prayrahayusbook.blogspot.co.id...

  • Alexandra
    2018-09-25 07:06

    Diawali dengan Iris, yang telah kehilangan sang pacar selama setahun. Terjun ke dunia pertamanan karena cintanya pada tanaman, juga karena ayahnya mencintai tanaman. Kini hidup sendiri tanpa ayah dan ibunya yang telah meninggal, hanya bersama Morries, sang anjing, dan seorang pembantu.Bertemu Wira, yang dingin dan juga kejam. Penculikan Morries demi uang tebusan. Pada akhirnya, terungkap kebenaran akan kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya sang mantan pacar.Ceritanya menarik, recommended deh. Lucu aja pas Wira bawa pistol, eh ternyata cuma air softgun.

  • Nurina Widiani
    2018-10-13 09:10

    Sebagai pembaca yang suka sama cover cantik, saya langsung terpikat dengan cover novel Garden Magic ini. Sederhana, kalem dan kesannya nampak melow. Dan karena saya lemah terhadap cover cantik, saya pun memutuskan membaca novel ini. Penasaran apakah isi ceritanya secantik covernya.Garden Magic bersetting di Jakarta, dan menggunakan POV orang ketiga. Jalan cerita lumayan lambat dan lebih banyak diungkap melalui narasi dan deskripsi. Banyak hal yang bahkan sebenarnya nggak terlalu penting pun dideskripsikan, seperti misalnya jajaran ruko di dekat perumahan hingga interior toko pun dideskripsikan secara mendetail. Padahal sebenarnya tidak ada pengaruh apa pun terhadap jalan cerita atau adegan.Beberapa adegan nggak penting pun cukup sering terjadi. Saat Iris bersepeda mencari obat dan hampir terserempet sepeda motor hingga menyebabkan kemacetan, misalnya. Jika adegan itu dihilangkan pun nggak akan mempengaruhi jalan cerita, kecuali jika kejadian itu menyebabkan Iris jadi kesal lalu meledak marah atau jadi terlambat lalu dimarahi Wira. Tapi enggak. Saya sampai bertanya-tanya, untuk tujuan apa adegan itu ditulis.Bisa dibilang hampir separuh kisah berjalan dengan flat. Seandainya ada misteri, saya nggak merasa berdebar-debar. Penasaran sih iya, tapi nggak sampai deg-degan.Ide konfliknya sebenarnya favorit saya, tentang balas dendam si cowok sementara ceweknya innocent. Hanya saja cara bertutur Mita Miranti masih cenderung datar dan penokohannya kurang kuat. Wira disebutkan membenci Iris, tapi kurang terasa dalamnya. Seolah cuma mengambang saja. Nggak sampai benci ke ubun-ubun. Dan ketika dia mulai goyah pun nggak jelas juga alasannya kenapa. Semua serba tanggung.Dialog yang diucapkan tokoh-tokohnya mengalir namun masih terasa datar. Hanya saja saya nggak begitu sreg dengan dialog campur-campur antara bahasa jawa dan bahasa indonesia. Serasa kayak lagi nonton FTV jadinya. Saya pikir kalau memang mau menekankan bahwa si pembantu berasal dari daerah cukup untuk kata tertentu saja yang menggunakan bahasa jawa, misalnya "ndak" atau "yo". Atau satu kalimat sekalian pakai bahasa jawa dan nanti diberi artinya di catatan kaki. Chemistry antar tokohnya juga terasa masih kurang dalam. Masih banyak hal yang tiba-tiba. Tiba-tiba suka, tiba-tiba cemburu, tiba-tiba penasaran, dan semua tanpa alasan atau sebab yang jelas.Ada dua hal yang menjadi sorotan dalam novel ini, tentang bunga dan anjing. Rasa cinta Iris terhadap tanaman terwujud dalam pekerjaannya, dan ada filosofi tentang bunga kana yang menjadi pegangan hidupnya. Sayangnya di bagian ini masih kurang tergali, beberapa istilah tanam-menanamnya masih istilah umum yang diketahui awam. Sementara sebagai dog lover, kisah mereka dalam isu penyelamatan anjing bisa diacungi jempol. Juga dedikasi Bram dan alasan mengapa ia memilih menjadi dokter hewan benar-benar keren. Saya sebenarnya suka melihat kebersamaan mereka terutama saat ada Morries, anjing milik Iris. Awalnya saya kira Bram bakal serius mengejar, toh Aldi sudah meninggal. Pasti konfliknya semakin seru dan tambah greget.Penyelesaian konfliknya masih kurang nendang. Cukup seru memang, apalagi bagian perkelahian dan penggerebekan. Namun pada akhirnya ada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Sayang karena bagi saya premis cerita ini sungguh menjanjikan seandainya perasaan tokohnya digali lebih dalam dan eksekusinya lebih berani.Tapi overall, Garden Magic adalah novel yang cukup menghibur. Terasa hangat apalagi bagi para pencinta tanaman dan pencinta anjing. Novel yang ringan untuk dinikmati sambil santai.

  • Fitra Aulianty
    2018-10-15 13:09

    (Unfinish reading) Terlalu banyak pengulangan kalimat seperti orangtua Iris yang telah meninggal, Aldi--pacar Iris yang meninggal, sehingga kesan konflik batin untuk 'sesuatu' yang ditutupi Iris tidak terlalu terlihat. Dan juga sampai hlm 71 saya belum ketemu dimana letak 'Magic'nya taman dan pekerjaan Iris ini. Tapi sebenarnya benang merah antara dua tokoh utama cukup bagus, cuma alurnya yang terlalu lambat membuat novel ini jadi membosankan dan tidak fokus ke poin utamanya.Dan tambahan, saya merasa riset untuk tata taman ini kurang, misalnya biasanya mereka bukan hanya menyesuaikan taman dengan minat pelanggan, melainkan juga memadukannya dengan tanaman yang sedang hangat-hangatnya atau sedang laris. Sehingga taman itu terus terasa baru.