Read Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa by Y.B. Mangunwijaya Online

ikan-ikan-hiu-ido-homa

Novel sejarah yang menggabungkan catatan kebudayaan masyarakat Halmahera, Maluku Utara, dengan cerita kehidupan lintas generasi dari suku Tobelo, dan menyimpulnya dalam satu benang merah: semangat kepahlawanan dan keberanian masyarakat dalam menghadapi penguasa dan bangsa kolonial.Berlatar belakang Halmahera pada zaman kolonial dan relasinya dengan para sultan Ternate-TidoNovel sejarah yang menggabungkan catatan kebudayaan masyarakat Halmahera, Maluku Utara, dengan cerita kehidupan lintas generasi dari suku Tobelo, dan menyimpulnya dalam satu benang merah: semangat kepahlawanan dan keberanian masyarakat dalam menghadapi penguasa dan bangsa kolonial.Berlatar belakang Halmahera pada zaman kolonial dan relasinya dengan para sultan Ternate-Tidore abad ke-16 dan 17, serta praktik kolonialisme oleh bangsa Portugal, Spanyol, dan Belanda. Keserakahan dan nafsu penjajah, serta perebutan kekuasaan antarkerajaan lokal akhirnya membuat rakyat begitu menderita. Pada akhirnya, siapakah yang sebenarnya menjadi sang ikan hiu pengganyang?Novel yang kental dengan rasa Nusantara serta dilengkapi dengan ilustrasi dan sketsa karya Y.B. Mangunwijaya. Novel yang dilengkapi dengan peta, catatan sejarah kebudayaan masyarakat di Maluku Utara, dan ilustrasi yang memukau. Bercerita tentang Gabi yang pada tahun 1980 menelusuri sejarah Kiema-Dudu, kepala kampung Dowingo-Jo di tepi timur Teluk Kao di pulau Halmahera sana ratusan tahun sebelumnya (1594) dan menemukan kepahlawanan dan keberanian masyarakat Halmahera saat menghadapi bangsa kolonial....

Title : Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa
Author :
Rating :
ISBN : 9794280410
Format Type : Paperback
Number of Pages : 316 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa Reviews

  • Bunga Mawar
    2019-04-10 04:24

    Buku ini harus dibuat filmnyaaa! Kalo ga ada duit, cari aja produser dari Belanda, atau Portugal, atau Spanyol, atau Holywood sekalian. Biar bule2 itu sadar, dari mana kampung mereka dibangun.*lagi nasionalis *jelang istirahat.*lagi pengin rame2 :)

  • Laras Thyrza
    2019-03-28 08:06

    Saya kagum akan buku ini. Walaupun memiliki latar belakang Ternate dan Tidore pada abad ke-15, Romo Mangun tetap mengikat relevansi yang kuat kepada kehidupan kita sehari-hari. Mohon dikomentar teman-teman :)Berikut adalah tanggapan saya:Keserakahan merupakan godaan dasar manusiawi yang mengakibatkan kita untuk selalu terperangkap dalam siklus perang kekuasaan. Salah satu contoh kasus ketidakadilan dan kesenjangan sosial adalah pemilihan kandidat presiden Amerika 2016. Berdasarkan Center for Responsive Politics, 92% dari calon yang menghabiskan lebih banyak uang akan menang. Karena itu, para politikus lebih mengutamakan opini masyarakat yang kaya dibandingkan yang lain. Berdasarkan New York Times, lebih dari setengah jumlah uang yang telah diakumulasikan pada pemilu berasal dari 158 keluarga, yaitu 0.0001% dari seluruh populasi. Kebijakan yang lalu diambil oleh politikus tersebut akan mengutamakan masyarakat yang kaya.Y.B Mangunwijaya menekankan konflik tersebut dalam latar penjajahan Ternate dan Tidore. Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa mencitrakan rantai makanan dan strata sosial yang menjadi instrumen pada perang kekuasaan. Hiu adalah ikan terbesar yang digambarkan sebagai penjajah kolonial. Ikan ido adalah mangsa hiu dalam wujud kesultanan dan kerajaan. Ikan homa adalah plankton-plankton yang paling kecil dan lemah, yaitu rakyat yang menjadi korban dari perang kekuasaan. Pada akhirnya, perang kekuasaan tersebut hanya akan menjatuhkan kesejahteraan bangsa. Mioti-Lamo berkata, “Apakah para paduka di Ternate dan Tidore tidak sadar bahwa segala perang saudara serta persaingan antar pulau-pulau kecil kita hanya menenggelamkan diri kita sendiri?”Ikan-ikan ini tetap hidup dalam siklus rantai makanan pada kehidupan kita pada masa kini. Kesenjangan sosial di Indonesia memperbolehkan yang kuat untuk berjaya dan yang lemah untuk sengsara. Dalam topeng para politikus, hiu dapat menuntut kekuasaan dengan merampok dan menindas. Rantai makanan hiu, ido, dan homa dapat terlihat dalam kebijakan pemerintah yang tidak adil, serta keputusan-keputusan yang mengutamakan masyarakat atas.Buku ini telah mengatakan bahwa sebenarnya manusia sedang dijajah oleh diri mereka sendiri. Seperti yang Mioti katakan pada halaman 271, “Sebenarnyalah siapa yang menganiaya orang? Akhirnya si orang sendiri itu juga. Penganiyaan oleh pihak luar masih mudah diatasi. Tetapi bagaimana apabila si penganiaya dan yang dianiaya ada dalam diri satu orang?” Agar harmoni dapat tercapai, kita perlu berjaya melawan godaan keserakahan. Y.B Mangunwijaya ingin menekankan karakteristik manusia yang jujur, adil, baik, merdeka, dan besar hati. Roma Mangun telah menyatakan prinsip-prinsip yang perlu disadari oleh rakyat Indonesia pada kehidupan sehari-hari agar kita dapat membangun negara yang sejahtera.

  • Subhodeep Ganguly
    2019-03-29 05:00

    Mohon Dibaca, Ini adalah analisa review buku kalau ada yang tertarik untuk membaca. Mohon juga di Komentari, terima kasih semuanyaM. Subhodeep Ganguly12ARantai Makanan dan Pemimpin yang Visioner“Namun, maafkan Paduka, bukankah Ido-Ido yang merasa menguasai Homa-Homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap-perangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? Manusa atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya? Apakah para paduka di Ternate dan Tidore tidak sadar bahwa segala perang saudara serta persaingan antar-pulau-pulau kecil kita hanya menenggelamkan diri kita sendiri?” Konflik berawal dari nafsu kekuasaan; inilah sifat manusia, jauh beda dengan sifat binatang-binatang yang dijelaskan di judul. Ikan-ikan hiu, ido dan homa hanyalah mengonsumsi sesama untuk bertahan hidup, mereka tidak punya naluri untuk mengonsumsi agar lebih kuat atau lebih kaya ataupun lebih tinggi jabatannya; mereka mengonsumsi hanya untuk mengonsumsi, tidak ada tujuan lain selain itu. Manusia berevolusi untuk menginginkan sesuatu yang lebih; mereka sudah tidak harus mementingkan keinginan untuk bertahan hidup, kita berada di zaman konsumsi yang sangat tinggi dimana manusia mengonsumsi bukan untuk bertahan hidup tapi untuk nafsu dan kenginan sendiri. Saya mengambil dua kutipan dari Halaman 296-297 dimana Mioti Lamo menjelaskan betapa tidak bergunanya peperangan antara saudara. "Di tengah laut o homa kami lemparkan ke tengah-tengah gerombolan ikan-ikan besar ido, yang langsung menggayangnya. Pada saat o homa itu dikejar-kejar oleh ido-ido ikan-ikan besar, ido-ido itu kami tangkap. Kami orang-orang Tobelo, Dodinga, Mangindao”“Orang-orang Galela dan nelayan-nelayan Patani, ibarat ikan-ikan kecil o homa, yang dikejar-kejar ikan-ikan besar ido. Bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap penangkap-penangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? Manusia atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya?"Kutipan ini menjelaskan bagaimana VoC dianalogikan sebagai ikan-ikan hiu tersebut, diikuti dengan Ido yaitu Sultan-Sultan dan Homa yang berarti Masyarakatnya sendiri. Jabatan tertinggi adalah orang-orang intelijen VoC yang dapat memanipulasi Sultan-Sultan untuk merampas sumber daya alam daerah tersebut. Ini bisa dilihat di zaman modern dimana Freeport (Salah satu tempat sumber daya alam terkaya di seluruh Indonesia) telah dimanipulasi oleh orang-orang Amerika dan dirampas oleh mereka karena sebatas kontrak yang mengikat negara kita untuk tetap memberikan kekayaan tanpa mendapatkan balasan yang setimpal. Sejarah akan selalu mengulang kembali; secara ekonomis karena bisa dilihat dari hubungan peristiwa Freeport dan kejadian yang terjadi didalam buku, kekayaan alam Indonesia akan selalu dirampas karena orang-orang luar akan selalu lebih mendahului secara finansial dan kecerdasan. Untuk mengubah arus sejarah yang mengulang seperti ini diperlukan perubahan; penyimpangan. Penyimpangan dimana pemimpin-pemimpin kita harus dapat memikir dengan lebih jauh dan luas. Dari zaman-zaman sultan di buku bisa dimengerti bahwa Mioti Lamo adalah pemimpin yang visioner, sangat berbeda dengan Kiema Dudu yang bisa dikutip dari bukunya halaman 10 “Dibutuhkan waktu lama oleh Kimelaha dari Dowingo-Jo, yang mahir olah tombak dan kapak dalam pertempuran laut, tetapi agak tolol dalam soal-soal yang lebih halus”. Karakter tersebut dinyatakan sebagai pemimpin yang berpikir sangat dangkal dan tidak bisa memikir kea rah kedepan, sangat berbeda dengan Mioti Lamo yang bisa dilihat adalah sosok yang sangat peduli dengan tempat asalnya sendiri dan ingin warga-warganya untuk hidup secara damai. VoC adalah orang-orang yang visioner karena mereka dapat melihat dan merencanakan apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki oleh Maluku; ini adalah sejarah yang mengulang dan dapat dilihat di Freeport sekarang.Referensi:• "Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa." Penerbit Buku Kompas. Kompas, 2014. Web. 24 Nov. 2015.• Amalia, Dieni. "CITRA ORANG LAUT DALAM NOVEL IKAN-IKAN HIU, IDO, HOMA KARYA." Prezi.com. Dieni Amalia, 27 Feb. 2015. Web. 24 Nov. 2015.• "Fans Berat Buku." Menjelajah Sejarah Halmahera Bersama Romo Mangun. Blogspot. Web. 26 Nov. 2015. .• Wirsuto, Adi. "Pesan Dalam Novel Ikan-ikan Hiu, Ido Homa Karya Y.B Mangunwijaya (Bagian I) - KOMPASIANA.com." KOMPASIANA. 13 Sept. 2015. Web. 26 Nov. 2015. .

  • Anya Annastasya
    2019-04-09 06:03

    Mohon dibaca dan di komentar... Terima kasih.Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang sangat hampir sempurna, serta memberi keindahan dan kelembutan. Perempuan diciptakan pada awal oleh Tuhan agar dapat menemani kaum lelaki agar tidak kesepian dan memiliki pasangan. Tapi terkadang lelaki melihat dari perspektif lain dan menganggap bahwa perempuan hanya diciptakan untuk memuaskan lelaki dan dijadikan objek kemenangan atau kekuasaan. Masyarakat memandang perempuan identik dengan lemah dan ketergantungan. Dari zaman ke zaman, kaum perempuan selalu di nomor duakan dibanding lelaki, dan peluang selalu lebih diberikan oleh lelaki dibanding perempuan. Perempuan hanyalah alat bagi laki-laki untuk mempermudah menancapkan kekuasaan.Perempuan selalu ditaruh di belakang dan selalu harus menuruti kaum lelaki. Bahkan di zaman sekarang pun, tenaga kerja lelaki lebih dihargai dibanding tenaga kerja perempuan. Contoh, dalam beberapa iklan, khususnya iklan lelaki; menunjukan seorang lelaki yang maskulin dan diiringi oleh banyak perempuan. Dari situ bisa dilihat kalau pandangan masyarakat mengenai perempuan hanya pengiring lelaki dan kodratnya memang sudah harus begitu. Seperti yang dikutip dari jaringan web www.himasigi.fisip.ub.ac.id, bahwa “Perempuan seolah-olah dibuat terkagum-kagum terhadap ketampanan pria, maskulinisme pria, dan hal-hal yang melekat pada sosok pria.” (Anonim, 2015). Perempuan pun dengan sadar atau tidak sadar terkadang melakukan suatu hal yang memang sudah “seharusnya” karena mereka dihadapkan dengan suatu kondisi dimana pemikiran mereka dikonstruksi sedemikian rupa agar terbentuk suatu keadaan yang menunjukan kalau perempuan hanyalah pengikut lelaki.Ada sebuah gagasan yang menunjukan kalau figur perempuan menentukan kedudukan mereka dan dijelaskan kalau perempuan yang pantas adalah mereka yang memiliki tubuh kurus langsing, kulit putih, rambut lurus, mata sipit, bibir tipis, dan lain sebagainya. Sehingga mereka perempuan yang tidak memiliki figur atau karakteristik tersebut akan merasa tersingkirkan, dan merasa tidak dianggap oleh lelaki karena lelaki lah yang membuat mereka berprasangka seperti itu. Mereka pun akan berusaha keras untuk menjadi perempuan yang dikonstruksikan mengenai bagaimana figur wanita “yang seharusnya”.Ketakutan merupakan bagian dari kehidupan perempuan yang membentuk posisinya di masyarakat. Ketakutan itu beragam alasannya, salah satu diantaranya ketakutan dari kekuasaan lelaki. Begitu banyaknya pihak yang beranggapan kalau lelaki sebagai kepala keluarga dan memiliki kuasa penuh akan istrinya. Perempuan merasa tidak bisa menjadi diri sendiri, karena berfikiran kalau mereka memang diciptakan untuk lelaki. Kenyataannya, memang perempuan tidak dianggap sebagai subjek oleh laki-laki. Sehingga perempuan yang dilecehkan merasa seolah-olah mereka tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, mereka merasa bahwa sesuatu sedang terjadi di luar kontrolnya. Mereka merasa kecil dan terancam, dalam hal ini perempuan dijadikan sebagai objek dan bukan sebagai manusia (subjek).Yang tidak disadari oleh masyarakat adalah hal ini sudah terjadi dari masa lampau atau bahkan zaman sebelum Indonesia merdeka. Hal ini sudah terjadi dari saat zaman penjajahan Belanda dan Inggris sehingga sudah menjadi budaya Indonesia. Pada zaman dulu, perempuan dijadikan objek jual beli dan kekuasaan oleh lelaki. Saat ingin mengikat hubungan, perempuan dibeli dan dijadikan objek kekuasaan di antara para lelaki. Hal ini dapat dibuktikan melalui buku yang menceritakan tentang penjajahan dan perang di Maluku yang berjudul Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa. Dalam buku itu terlihat jelas salah satu masalah yang menarik perhatian penulis adalah mengenai diskriminasi pada kaum perempuan. Salah satu bagian yang sangat menunjukan diskriminasi perempuan adalah ketika istri dari Kiema Dudu didapatkan dengan cara memenangi kekuasaan di antara lelaki lainnya. Istrinya dijadikan simpanan untuk menunjukan kekuasaan dia.Dari buku ini, kita bisa melihat bahwasanya perempuan dijadikan objek kekuasaan sudah terjadi dari zaman penjajahan di Maluku, bahkan mungkin sebelum itu. Hal ini sudah menjadi tradisi atau budaya turun menurut, terutama di Indonesia. Mengubah budaya tersebut bukanlah hal yang gampang dan dapat berubah tergantung dari karakter seseorang masing-masing.

  • Rey Noer
    2019-04-01 08:25

    Manusia memiliki sejarah yang penuh dengan konflik. Ini dapat dilihat dari perperangan saudara yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1861 sampai 1865, kemudian Perang Dunia I serta konflik-konflik yang mendatang. Orang-orang seperti Joseph Stalin dan Adolf Hitler yang memperpanjang ataupun memulai konflik yang diperingatkan sebagai Perang Dunia II. Ini juga dapat menjadi kasus di mana orang visioner yang hanya memikirkan sendiri. Kasus seperti inilah yang juga dapat dilihat dalm buku "Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa," sebuah novel karya Y. B. Mangunwijaya yang menceritakan situasi Maluku pada abad ke 16-17 saat negara-negara Eropa berorganisasi untuk memperdagangkan Sumber Daya Alam (SDA) yang terdapat pada Maluku tersebut. Di novel tersebut, pembaca akan diperkenalkan dengan Mioti-Lamo yang sebagai tokoh utama dari novel tersebut dan dapat disebut sebagai seorang pemimpin visioner. Dia dapat menjadi seorang visioner karena Mioti-Lamo memiliki nilai-nilai moral yang menantang pandangan masyarakat pada jaman itu di mana pulau-pulau yang terdapat di Maluku berkonflik sesama, kasus ini terjadi terhadap dua pulau saudara; Tidore dan Ternate. Dari konflik saudara tersebut, negara-negara asing dapat masuk dan mengeksploitasi situasi tersebut melalui perampasan SDA pulau-pulau tersebut. Mioti-Lamo sendiri memiliki impian di mana semua dapat mencapai harmoni dan kedamaian."Makmur tanpa keadilan tidak mungkin. Memang! Bini harus dibeli, dan mahal, itu adil." Ditemukan pada halaman 216. Seperti kuotasi yang dapat dari novel tersebut, keadilan tanpa aksi ataupun pembayaran sama saja tidak melakukan apa-apa. Kasus yang terjadi di Maluku di mana masyarakat dan sultan-sultan pun dijajah oleh VoC dapat dilihat lagi pada Indonesia sekarang diantara pemerintah dengan beberapa perusahaan sekarang. Di industri pertambangan, kasus-kasus seperti inilah yang terjadi. Pada Indonesia sendiri, beberapa perusahaan pertambang memiliki Kontrak Karya (KK) dengan pemerintahan yang beberapa dapat dikatakan kurang adil terhadap Indonesia. Ini dapat terjadi karena KK tersebut dibuat pada saat Indonesia di posisi yang masih kecil dalam segi modal."Manusia tidak pernah sendiri, Baginda yang berjiwa besar. Manusia selalu adalah aku yang meng-kami serta meng-kita.Justru di situlah keagungan manusia, mampu dan mau untuk bermusyawarah.' Tercantum pada halaman 151. Kutipan tersebut sangat terkait dengan masyarakt secara general, karena kami sebagai manusia harus dapat berinteraksi dengan damai serta dapat menjadi seorang pemimpin yang visioner.Tolong dikomentar ya :)

  • nanto
    2019-04-06 12:14

    Gara-gara kemaren Amang sama Roni ngomong soal novel ini, jadi pengen baca lagi.Belum mulai sih, abis masih banyak yang lain.Cuma inget dengan wajah romo satu ini. Pernah seorang kawan cerita, Romo Mangun waktu meninggal meninggalkan warisan besar buat kaum yang tinggal di pinggir kali Code. Saya nyaut, "tau gak duitnya romo itu darimana?" Temen saya mikir sebentar dan langsung jawab, "dari hadiah dan royalti novel-novelnya!" "Ah itu sih gak seberapa!" kata saya. "Darimana donk?" penasaran dia."Dari royalti hak paten wajahnya di KFC!" Saya tambahin, "Kolonel Sanders itu rekaan lagi, yang bener itu wajah Romo Mangun. Coba aja liat! hehehe"Untung temen saya itu so'serius mikirin omongan saya. Soalnya sebelum dia memaksa lebih jauh melanjutkan kengacoan barusan, saya sudah kabur hahahaRomo nyuwun sewu, njenengan ndak marah kan? Saya nanti rajin baca novel dan wejangan njenengan deh. Mbacanya juga di resto itu deh! :D Piss Romo....

  • Barbara Hahijary
    2019-03-22 07:10

    ...kami rakyat kecil hanya bagaikan ikan-ikan kecil o homa, yang kami tangkap hidup-hidup di dalam perahu-perahu bila kami sedang bernelayan. di tengah laut o homa kami lemparkan ke tengah-tengah gerombolan ikan-ikan besar, yang langsung menggayangnya. pada saat o homa itu dikejar-kejar oleh ido-ido ikan-ikan besar, ido-ido itu kami tangkap. kami orang-orang Tobela, Dodinga, Mangindao, orang-orang Galela dan nelayan-nelayan Patani, ibarat ikan-ikan kecil o homa, yang dikejar ikan-ikan ido.Namun, maafkan Paduka, bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankan mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap-perangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? manusia atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya?-page 222

  • Tomi
    2019-03-28 07:04

    I was absorbed by the book when I read it in my Junior High School.The story was set in the kingdom of Ternate-Tidore back in the middle ages. Romo Mangun --as the author was usually referred to-- showed his vast knowledge in history, telling us in details about everything and everyone involved and then drove my emotion through his skillful plots.I enjoyed it as a literary work --for the dramatic story telling-- as well as a history book --for the accuracy.

  • novi a. puspita
    2019-04-03 04:16

    Butuh kesabaran & ketekunan serta konsentrasi penuh untuk baca buku ini. (setidaknya begitu yang saya alami)Sebab biarpun ini novel berbahasa indonesia, logat yang digunakan Mbah Y. B. Mangunwijaya dalam bercerita yaitu aksen Halmahera -meski ada juga saya dapati beberapa kata berbahasa Jawa.Jadi terbayang kesulitannya bukan? Hehe. Membaca, mencerna, berimajinasi & menyatukan rangkaian sejarah dalam setiap bab-babnya.

  • Syafira Angelina
    2019-04-07 10:59

    Okay. Let's say I'm bias because I give this just 2 stars.Despise on one particular thing that I respect the most, this book is a good book for historical fiction.I. Don't. Like. How. Low. The women. In this.YES! I KNOW! The time for this novel is 16th until 17th century and there is no women empowerment that time. No one knows what's feminism is, even there is no such thing as feminism.But, the way the male characters talking about the women already... I don't know how to say this properly.... makes me feel kind of uncomfortable. But, well, I still rate it the way it is in my opinion.

  • Erwins
    2019-03-22 12:22

    Poli-tikusDi dunia ini, selalu kita temukan sebuah bagian dari keberlangsungannya masyarakat yang tak benar, dan kita tak akan selesai menghitungnya. Kita adalah satu makhluk yang tak jera dengan banyaknya masalah di dunia - dan masalah-masalah ini terus berjaya dengan konteks yang terus berkembang, seiring berkembangnya pemikiran manusia, budaya, dan teknologi. Satu hal yang kita suka kritik adalah orang-orang yang ‘mengurus’ kita, atau juga ‘memerintah’. Di negara ini, mereka sangat jeli dengan uang di jari-jemari mereka, dan mereka mau lebih… lebih… dan lebih banyak lagi. Negara ini terselubungi polusi, korupsi, dan kolusi, serta ketidakadilan yang berdatangan setelah itu untuk populasinya, dan novel oleh Romo Y.B. Mangunwijaya ini, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, berperan baik dalam mengekspresikan suatu hal yang ruwet, yang juga dialami oleh banyak negara lain dalam sejarah.Y.B. Mangunwijaya suka bertutur tentang sejarah, yang di buku ini terlihat sifatnya dalam cerita buku yang berkutat tentang sejarah di kepulauan Maluku. Banyak alur yang mengupas ekspresi para tokoh (atau setidak-tidaknya perkiraan ekspresi mereka) yang menjalani sekaligus menjadi korban peperangan sengit antara setidaknya 3 strata pihak – bangsa farang (asing), kesultanan-kesultanan Ternate dan Tidore, dan masyarakat Halmahera (yang termasuk Tobelo dan Dodinga). Ketiga strata yang dituliskan di dalam buku Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa seakan 3 ikan yang berbeda – tetapi berada dalam rantai makanan yang sama. Dalam rantai makanan ini, bangsa farang adalah ikan hiu yang menggunakan dan menipu bangsawan kesultanan, ikan-ikan ido, dan yang bergiliran membuat perangkap untuk penjelmaan masyarakat Halmahera (ikan-ikan homa). Dalam buku ini pun, kita bisa lihat bagaimana strata-strata berkekuatan dan derajat yang beda dapat berjalan yang sama dengan apa yang terjadi di dunia riil.Di dunia asli, kita hanya dapat melihat beraksinya dan merasakan dampaknya orang-orang yang berdiri dan bergelora di atas sana. Di mata banyak orang Indonesia, orang-orang ini adalah para advokat yang kerjanya duduk di kursi, berfikir, makan, berfikir, makan, dan, akhirnya berkata beberapa hal yang kita tak tahu kebenarannya atau tidak – dan cara berfikir ini dapat kita justifikasikan jika kita lihat kejadian-kejadian yang telah menimpa kita dan memperbelakangkan perkembangan kita beberapa dekade terakhir. ‘Politikus’ adalah sebuah kata yang tentu tak akan lengkap tanpa kata ‘tikus’ di akhir katanya (dan sejujurnya ‘poli’ adalah kata dari bahasa Yunani yang berarti ‘banyak’). Di permainan kekuatan, kita bisa lihat di dunia pemerintahan, antara semua negara, adalah politikus-politikus itu yang memimpin - mau kata itu diterjemahkan sebagai penyelamat atau diktator, kita dapat berpendapat berbeda-beda.Tanah Airku – dan kau – adalah sebuah taman bermain untuk tikus yang banyak itu. Di sini, mereka membuat banyak kasus berkat maraknya berajang serakah untuk mereka sendiri. Kasus-kasus yang pernah terjadi dan sekarang juga berlangsung itu bisa juga dikatakan poli. Menurut Indonesia Investments, korupsi di Indonesia merupakan sebuah kejanggalan yang sudah mendarah-daging – dan mungkin sudah tidak janggal sama sekali – bagi pemerintah Indonesia. Masyarakat pun telah membuat sebuah akronim yang tepat: KKN – bukan Kuliah Kerja Nyata, tapi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Akronim ini merdu nan lantang suaranya saat disuarakan 1000 orang di depan gedung-gedung seperti Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Menurut Indonesia Investments pun, masalah ini telah memakan bangsa tersendiri (yang termasuk pemerintah kita tercinta) sejak 50 tahun yang lalu, yakni awalnya Orde Baru. Pada saat itu, Presiden Soeharto menaikkan status Rakyat Republik Indonesia saat ia menaikkan ekonomi tanah air (dengan produk nasional bruto yang menaik per tahun sekitar 6.7 persen). Kejayaan ini sayangnya memang terlalu janggal dan cukup terlihat mantranya apa – penggunaan sistem patronase sang Presiden yang mendapatkan loyalitas bawahannya, yang beragam dari elit kroni kapitalis sampai nasionalis ekonomi. Semua kolusi ini dilakukan dengan cukup kentara, janggalnya juga.Kita bisa lihat, ada bangsa-bangsa yang tidak menenggelamkan atau memakan dirinya sendiri melalui ketangkasan-ketangkasan seperti berikut, berdasarkan Transparency International, yang, sejujurnya, minim. Bangsa-bangsa ini kebanyakan berada di peninsula Skandinavia, tempat edukasi nomor 1 di dunia (di Finlandia) dan sebuah obligasi kritis yang unik, yakni menjaga lingkungan. Negara-negara Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia semua berada di Top 5 negara-negara yang berkaliber memuncak dalam komitmennya melawan KKN. Transparency International juga bertutur bahwa negara-negara ini adalah negara yang sangat terbuka terhadap masyarakatnya, dan dengan itu, informasi adalah sesuatu yang dibagikan secara transparan dan normatif. Tradisi ini pun sudah dimulai dari sekitar 200 tahun lalu, tepatnya di tahun 1766 oleh Swedia. Dengan ini, semua kejadian dapat diliput dan media tak perlu menjadi sebuah entitas yang labil atau berkecenderungan akan pemihakkannya tehadap partai atau calon Perdana Menteri.Yang kita lihat di dua kasus ini adalah bagaimana adanya ikan-ikan hiu (atau ido) yang menindas, membebani – mencekik – ikan-ikan homa (ya, kita sang rakyat), yang hanya bisa dimakan dan terus dimakan jati dirinya. Negara-negara di ujung atas dunia itu, pada sisi satunya, adalah ikan-ikan yang tak berlevel atau berderajat yang beda. Dengan adanya sebuah rantai makanan yang arahnya hanya satu seperti ini, Indonesia memang memerlukan sebuah kekuatan yang belum terkemuka dari jati diri bangsanya sendiri – inisiatif dan keketatan yang murni (dan kekal sebisanya).“Ya, begitu selalu ikan-ikan ido itu. Merasa diri pencaplok jaya; tetapi pada kenyataannya ido-ido itu sendirilah yang tercaplok. Sebenarnyalah siapa yang menganiaya orang? Akhirnya si orangnya sendiri itu juga. Penganiayaaan oleh pihak luar masih mudah diatasi. Tetapi bagaimana apabila si penganiaya dan yang dianiaya ada dalam diri satu orang? Kemerdekaan, kebesaran hati, ketegakan sikap, semua itu harus dari dalam.” - Y.B. Mangunwijaya

  • Abi Ghifari
    2019-04-14 08:59

    Sejarah Indonesia seakan tak pernah habis untuk digali, dieksplorasi, dan dituturkan dalam bentuk lain, untuk dapat dibagikan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat yang mendamba ceritera mengenai peristiwa bersejarah yang bernuansa dan berlatarbelakang asli Indonesia. Kisah-kisah tersebut kemudian beralih menjadi bentuk baru dari kisah sejarah yang faktual namun tanpa menghilangkan estetika serta penuh pelajaran bermakna yang masih relevan hingga kini. Barangkali dengan semangat itulah sang sastrawan serba-bisa kebanggan tanah-air, Romo Y.B. Mangunwijaya, menuliskan salah sebuah kisah bersejarah pada ‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ ini.‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ mengisahkan kehidupan penduduk suku Tobelo yang bermukim di sekitar pantai Teluk Kao, Halmahera, di antara perseteruan yang tak kunjung reda antar-saudara pulau kembar dengan gunung api yang bergejolak: Ternate di utara dan Tidore di selatan sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Perselisihan yang hanya diakibatkan oleh gengsi dan dendam masa lalu semata itu pula yang semakin membuat kedua kerajaan pulau kecil yang bersisian itu semakin terjerembab jatuh dan mengalami kemunduran. Perang saudara yang berkelanjutan itu tentu dimanfaatkan dengan baik oleh armada dagang kolonial asal Farang (Eropa): Portugis, Kastilia (Spanyol), Inglis (Inggris), serta Holan (Belanda) lewat VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang bertekad menguasai kepulauan kaya rempah-rempah itu.Setelah kampung Dowingo-Jo yang damai di pesisir Teluk Kao dibumihanguskan oleh bala tentara Kerajaan Ternate akibat ambisi pribadi sang kepala kampung, Kiema-Dudu, seorang pemuda bernama Mioti-Lamo, ahli pembuat kapal yang berhasil selamat dari pembantaian keji itu membangun kembali desa yang telah luluh lantak itu. Ia menamai desa itu Gamu Fela Ie disingkat Gamfela yang bermakna Kampung Kutegakkan Kepala. Bersama dengan istrinya, Loema-Dara, janda dari Kiema-Dudu, Mioti-Lamo memiliki keturunan dan mengajar penduduk kampung halaman istrinya untuk memasyhurkan kembali kampung tersebut ke seantero Maluku akan keahlian mereka dalam membuat perahu.Di sisi lain, Kerajaan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Said Uddin Barkat pengganti Sultan Baabullah serta para hulubalangnya yang arif bijaksana, Jougugu Hidayat, Kaicil Ali, dan Ngofa Jou Juanga-Murari tengah menimbang-nimbang armada Holan untuk dijadikan mitra dagang sekaligus mitra perang untuk menghadapi Tidore yang telah didukung armada Portugis. Keputusan Dewan Kerajaan pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kampung Gamfela.Kedamaian kampung kemudian terusik oleh kedatangan wakil Kerajaan Ternate yang memohon keahlian membuat kapalnya demi kepentingan Ternate. Mioti-Lamo yang sejatinya tidak menyukai dan sangat menghindari konflik, terang-terangan mempertanyakan langkah Kerajaan Ternate:“…Namun, maafkan Paduka, bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap penangkap-penangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? Manusia atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya? Apakah para paduka di Ternate dan Tidore tidak sadar bahwa segala perang saudara serta persaingan antar pulau-pulau kecil kita hanya menenggelamkan diri kita sendiri?” – hal.297 (Penerbit Kompas, 2015)Namun Mioti seperti tidak memiliki pilihan selain untuk membantu, apalagi dengan masih hidupnya ibu serta adik perempuannya yang selama ini tinggal di lingkungan istana Ternate. Namun ia tak pernah menyangka bahwa langkah itulah yang akhirnya mencerabutnya dari kampung halaman tempatnya lahir dan mencurahkan hidup serta cintanya.‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’memang merupakan fiksi sejarah. Namun kejelasan alur cerita dan kepiawaian serta kejelian pengarang dalam menggunakan referensi bahasa, budaya, dan religi membuat karya ini begitu menarik karena memang pengarang menggunakan penelusuran sejarah yang mumpuni dalam menulis kisah ini. Romo Mangun juga dengan jeli memanfaatkan latar belakang unik dan dialek jenaka suku Tobelo untuk membangun cerita, merangkai deskripsi, serta membangun humor khas Mangunwijaya sehingga jalan cerita terasa dinamis dan jauh dari kesan membosankan. Penulis juga mengungkap betapa besar pengaruh persaingan dua saudara sebangsa seiman Ternate-Tidore dan kedatangan armada Eropa terhadap seluk-beluk kehidupan suku-suku kecil yang dikuasai dua kerajaan tersebut.Kehidupan penduduk Gamfela digambarkan dengan sangat baik dan detil oleh Romo Mangun, termasuk penggunaan diksi dan ekspresi khas suku Tobelo. Deskripsi akan prosesi adat, budaya, kepercayaan, serta kearifan lokal suku Tobelo juga menjadi daya tarik tersendiri dari fiksi sejarah ini yang juga membuat pembaca berdecak kagum akan keberagaman budaya di Indonesia, bahkan di lingkungan kecil antar-pulau di Maluku Utara tersebut.Terasa juga kritik Romo Mangun akan tabiat kerajaan kedua pulau kecil yang makmur itu dan mungkin juga sebagian besar masyarakat pribumi lainnya yang masih juga terasa gaungnya hingga sekarang:“Perang saudara dalam bentuk apapun yang hanya menguntungkan pihak-pihak luar belumlah terkubur sampai hari ini.” (Epilog) Kerajaan Ternate dan Tidore yang bagai ikan-ikan ido yang lebih besar bersaing memperebutkan dan mencaplok ikan-ikan homa yang lebih kecil, termasuk penduduk Tobelo, Dodinga, dan Mangindanao. Namun tanpa disadari mereka juga telah diperdaya dan masuk perangkap ikan-ikan hiu yang jauh lebih cerdas, kuat, dan beringas: para penakluk asal Eropa.Karya ini semakin meneguhkan posisi Romo Y.B. Mangunwijaya tidak hanya sebagai rohaniwan dan budayawan yang disegani, namun juga sastrawan-sejarawan yang mampu melahirkan karya adiluhung dalam khazanah sastra Indonesia. Buku ini merupakan sumbangan besar terhadap dunia literer tanah-air serta sebagai salah satu usaha dokumentasi sejarah bangsa lewat sastra.https://abighifari.wordpress.com/2015...

  • Mnione
    2019-04-06 12:12

    Vioneljoseph

  • David Dewata
    2019-04-19 12:06

    Great story telling. Great timeline style.

  • Johanna Amanda
    2019-03-21 04:05

    Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa adalah buku mengenai sejarah Indonesia pertama yang saya baca, dan saya sungguh kagum dengan tata penulisan Y. B Mangunwijaya yang membuat buku ini jauh dari membosankan. Demikian saya memberikan komentar mengenai konflik sosial akan stratisfikasi sosial yang terdapat di dalam buku ini dan bagaimana hal tersebut memiliki relevansi terhadap fenomena Tapering oleh The Fed yang berdampak besar pada makro ekonomi di Indonesia. Mohon dibaca dan dikomentar ya, terima kasih sebelumnya. :) Pada buku Ikan-ikan Hiu, Ido, dan Homa secara analogis menggambarkan stratisfikasi sosial yang tidak dapat dipungkiri itu ada walaupun kasat mata. Yang terkuat dan yang paling dominan diibaratkan sebagai ikan hiu. Di laut, ikan hiu adalah predator, pemangsa, dan penguasa; segala ikan yang lebih kecil dan lemah pasti akan diterkamnya. Layaknya hukum alam, ikan ido yang fisik dan kekuatannya relatif lebih kecil juga mempunyai kekuasaan yang lebih rendah dibandingkan dengan hiu. Namun, ikan homalah yang digunakan untuk menggambarkan strata terdasar di masyarakat, yang paling rendah, ringkih, dan juga yang paling rentan dari serangan predator-predator yang hirarkinya jelas lebih tinggi. Tanah air kita sendiri adalah korban stratisfikasi dalam segi ekonomi. Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah rakyat yang hidup dibawah garis layak berjumlah 28 juta jiwa, adalah ikan ido. Perekonomian negara kita juga masih belum stabil dan masih mudah terpengaruh oleh negara adidaya yaitu Amerika Serikat. Disaat US Dollar terjadi inflasi, maka harga pasar di Indonesia juga ikut melambung. Amerika Serikat adalah negara yang kuat dan sudah berkembang, maka Amerika adalah ikan hiu. Suatu kutipan pada novel yang dengan jelas menjabarkan stratisfikasi dimana yang lebih lemah akan jatuh dan kalah pada pihak yang lebih kuat ada pada halaman 297. Di halaman ini Mioti Lamo menyatakan bahwa, “bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap penangkap-penangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus?” Ekonomi Indonesia cenderung masih dalam naungan negara-negara hiu, khususnya Amerika. Dalam perekonomian, tanah air kita ini masih tergolong ikan ido karena menurut Mangasa Augustunisnus Sipahutar, fundamental dari negara kita masih dibawah standar. Nyatanya, fenomena tapering The Fed yang sedang diluncurkan oleh Amerika Serikat, sangat berdampak pada makro ekonomi di Indonesia, jika dilakukan secara langsung dan tidak bertahap. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) merencanakan untuk melakukan program tapering yaitu sebuah program dimana The Fed memotong pembelian aset yang tiap bulan dilakukan oleh Amerika Serikat dengan dana sebesar US$ 85 miliar. Awalnya, Bank Sentral Amerika Serikat memiliki kebijakan Quantitative Easing dimana bank sentral akan menambah jumlah uang yang beredar dengan membeli berbagai aset investasi termasuk surat-surat berharga dan saham guna melimpahi pasar keuangan dengan uang tunai. Dengan demikian, mata uang negara tersebut akan meningkat rasio likuiditasnya. Hal tersebut akan memacu laju inflasi yang akan meningkat, sementara jumlah uang beredar yang bertambah akan semakin memperlemah nilai mata uang. Tujuan dari Quantitative Easing atau stimulus itu sendiri adalah agar bank sentral sanggup memberikan long term credit atau kredit masa panjang dan tidak mendapati kekurangan dana. Juga, dengan suku bunga yang redah, para pelaku bisnis akan meminjam uang dengan jumlah yang lebih besar. Hal ini akan menguntungkan bidang usaha dimana produk dari Amerika Serikat harganya akan relatif lebih rendah. Kondisi di Indonesia sendiri masih sangat bergantung dengan kondisi ekonomI Amerika Serikat. Jika program tapering itu akan di realisasikan, maka dampak pada negara berkembang seperti Indonesia adalah keringnya likuiditas yang akan menyebabkan pelambatan ekonomi. Tapering juga dapat berdampak besar pada investasi di tanah air, karena disebutkan dalam periode 2004-2012 investasi asing langsung dari Amerika Serikat di Indonesia mencapai total US$ 65 miliar. Menurut penelitian Ernst & Young Indonesia, perusahaan dari Amerika memperkerjakan kurang lebih 183 ribu warga Indonesia dengan upah bersaing. Perusahaan tersebut juga mendukung terciptanya lebih dari 1,7 juta lapangan kerja di Indonesia. Jika perusahaan tersebut gulung tikar akibat tapering maka angka pengangguran di Indonesia akan bertambah. Berdasarkan bukti-bukti diatas, Indonesia masih sangat terpengaruh oleh gejolak ekonomi global, khususnya tapering yang akan kemungkinan akan dilakukan The Fed. Sampai kapan bangsa Indonesia akan terus bernaung di bawah sayap megah nan gagah negara adidaya Amerika Serikat? Sampai kapan Indonesia ingin terus menjadi ikan ido yang dayanya digunakan untuk memperkuat ikan-ikan hiu? Bangsa kita harus lebih independen; dapat berdiri sendiri tanpa mengandalkan negara lain, dengan begitu garuda dapat mengepakan sayapnya kembali.Buku ini memberi koneksi akan bahayanya jika kita tetap menjadi korban akan penjajahan yang kian terjadi.

  • Henny Sari
    2019-04-13 07:14

    Romo Mangun begitu fasih menjadi bagian dari budaya Maluku Utara dalam buku ini. Termasuk soal kepercayaan klasik suku2 pedalamannya maupun agama modern yg dianut para Raja dan penduduk sekitarnya (Islam). Salut pada Romo. Namun saat menceritakan karakter Mioti, terutama di bagian2 menjelang akhir, sosok diri Romo sebagai Sang Pencerita demikian mendominasi, sehingga lama-kelamaan karakter Mioti (juga Tarate Rorasai) menjadi seperti boneka, bukan sosok hidup. Puncaknya terjadi saat Mioti --yg di awal digambarkan sebagai sosok bijak, dewasa/matang, pemberani, kalem, serba bisa/berbakat-- menangis meraung-raung saat mendengar berita ttg ibu dan adiknya dari Kaicil Juanga Murari. Selain itu, di bagian penutup, kemunculan tulisan Gabi Guraci yg digambarkan sebagai peneliti dan pencerita kisah dlm buku ini kurang smooth menjadi seorang anak Jakarta yg berlogat Betawi. Logat itu terasa dipaksakan. Romo kurang fasih logat/Bahasa Betawi. Lebih pas kalau Si Gabi (yg "Enyak"-nya berdarah Halmahera) berbicara logat Malut atau Indonesia standar saja.

  • Budiono Budi
    2019-04-20 07:08

    Sebuah novel sejarah yang mengisahkan kehidupan suku Tobelo di tengah-tengah perebutan kekuasaan antarkerajaan lokal yang semakin diperkeruh dengan datangnya bangsa-bangsa penjajah, semua itu dianalogikan bak rantai makanan antara ikan-ikan hiu, ido, dan homa. Suatu komposisi yang apik memadukan kepolosan penduduk pribumi yang masih memegang teguh kearifan lokal, ambisi dan gengsi kerajaan daerah, serta tipu daya dan kekejaman kaum Barat. Dinamika sejarah yang tak menentu saat itu membuat cerita dalam novel ini penuh kejutan dan menarik untuk dibaca generasi muda agar tak melupakan sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan.

  • Putra Wahyu
    2019-04-12 11:10

    Namun Kepulauan Banda sudah terlanjur ia cintai, termasuk penduduknya yang masih sederhana dan kasar, lagi sering bodoh sekali. Semua penduduk di bawah katulistiwa ini manusia perasa, budak emosi, kurang berkembang layar nalar mereka. Itulah kekurangan kaumnya di kepulauan indah ini bila menghadapi orang-orang serba perhitungan seperti kaum VOC, Portugis dan Kastilia.

  • Karlina
    2019-04-10 10:02

    Sebuah novel dengan cerita berbau etnografis dan historis tentang sesudut Maluku, dan seperti biasa, diceritakan dengan gaya memikat ala Yb Mangunwijaya dengan karakter-karatkter tokohnya yang simpatik. Mungkin benar bahwa tulisan etnografi terbaik adalah sebuah novel.

  • ana
    2019-04-15 07:02

    novel berbau sejarah yang aku cintai. bagaimana sih cara membuat fiksi dan fakta menjadi bias?

  • gieb
    2019-04-17 09:09

    baru dapat.

  • Dini Meiliani
    2019-04-20 04:01

    Ini buku karya beliau yang pertama saya baca. Awalnya pas baca judulnya agak aneh juga dan gak ada gambaran isinya gimana dan ternyata isinya keren! Sekali lagi, menambah pengetahuan.